Trader Saham, Antara Berpikir Kreatif atau Sederhana

Dalam beberapa buku yang pernah dibaca penulis, banyak yang menyampaikan tipe-tipe investor dalam dunia pasar modal. Seorang yang konservatif lebih disarankan untuk menjadi investor jangka panjang (value investor), seorang yang moderat disarankan untuk menjadi investor jangka menengah (swing trader), dan seorang yang agresif disarankan menjadi trader harian (daily trader).

Tentu saja kebanyakan orang ingin menjadi trader harian dengan harapan bisa mendapatkan untung besar dalam waktu yang singkat. Meski terkadang kenyataan tidak seauai harapan. Menjadi seorang trader harian menuntut kita untung sering melakukan analisa teknikal, melihat isu-isu atau berita terhadap saham tertentu, gerakan para bandar.

Namun bagi sebagian orang, menjadi trader harian itu melelahkan, tapi belum tentu bagi sebagian orang yang lain. Ada yang menikmati naik turunnya harga suatu emiten dengan hati yang senang.

Pengalaman dan jam terbang membentuk karakter dan pribadi kita dalam melakukan aktivitas investasi/trading saham, apakah kita harus menjadi investor/trader yang berpikir kreatif atau berpikir sederhana.

artikel, investasi, saham, edukasi, cerita, inspirasi, kreatif, sederhana


Keluguan dan  Kejujuran Warga Samin


Warga samin (suku samin) terkenal dengan keluguan dan kejujurannya yang seringkali disalahpahami masyarakat umum. Mereka kemudian dianggap bodoh, tolol, atau bahkan sinting. Meski sesungguhnya sikap dan ucapan tersebut karena sangat jujur cenderung naif, menangkap sesuatu secara harfiah dan apa adanya.

Berikut ini adalah cerita berbasis kisah nyata yang beredar di masyarakat sekitar Blora, Jawa Tengah, yang mengeksplorasi keluguan dan kejujuran warga samin.

Ajaran Samin sejatinya adalah kejujuran, tidak mencuri, tidak menebar permusuhan dengan semua makhluk hidup. Tak terkecuali burung-burung.

Suatu ketika ada anak seorang Samin disuruh menjaga padi di sawah oleh seorang lain yang bukan dari komunitas Samin. Ketika orang itu  datang dan melihat padinya diserbu ratusan burung pipit dan anak yang disuruh menjaga hanya diam, maka dia marah besar terhadap anak tersebut.

Namun anak tersebut menjawab, "Aku ki mung dikongkon jaga sawah, ora dikongkon ngusir manuk. (Saya hanya disuruh menjaga sawah bukan mengusir burung)," kata si anak Samin.

Lain hari ada cerita lagi.

Karena sangat akrab dengan alam, orang-orang Samin di masa lalu tak pernah mau memetik buah apa pun sebelum jatuh. Termasuk buah kelapa, meski sejatinya buah kelapa itu sudah layak dipetik.

Selain itu, mereka tak pernah menaruh prasangka kepada orang lain, sehingga selalu siap membantu. Bahkan kepada orang yang tak dikenalnya, ia akan membantu. Kecuali satu hal, merusak alam.

Suatu hari ada pedagang kelapa datang ke perkampungan Samin. Ia hendak membeli kelapa, namun tidak ada. Maka, ia menyuruh seorang anak Samin untuk memetiknya agar bisa dibeli.

"Kowe menek klapa ya. (kamu manjat kelapa ya)," kata si pedagang.

"Ora iso (nggak bisa)," jawab si anak samin.

"Lah apa (mengapa)?" tanya si pedagang.

"Klapa kok dipenek. Sing iso dipenek kuwi wit klapa (kelapa kok dipanjat. Yang bisa dipanjat itu pohon kelapa)," jawab si anak samin.

"Oh ngapurane ya. Ya wis tulung menek wit klapa (oh maaf ya. Ya udah sekarang tolong manjat pohon kelapa ya)," kata si pedagang.

Maka si anak Samin itu bergegas menuju ke sebatang pohon kelapa. Dengan cekatan ia memanjat ke atas. Melihat hal itu, si pedagang tersenyum.

"Sak jam maneh aku mrene. Tak muter dhisik(Sejam lagi saya ke sini lagi. Saya mau keliling dulu)," kata si pedagang.

Satu jam kemudian, si pedagang kembali ke tempat semula. Ia heran tak ada kelapa yang sudah dipetik. Si anak Samin juga tak kelihatan. Ternyata ia sedang asyik tiduran di pelepah daun kelapa yang cukup besar.

"Lah apa kowe neng kana? Kok ora ngopek klapa, ora mudhun? Kebangeten nemen goblogmu (Mengapa kamu masih di situ tanpa memetik kelapa. Juga tidak turun? Kebangetan sekali ketololanmu)" teriak si pedagang.

"Aku mau kon menek wit klapa. Ora kon ngopek klapane. Aku kon menek njur mbok tinggal, ora dikongkon mudhun. Sing kebangeten ki sopo? (Saya tadi disuruh manjat pohon kelapa. Nggak disuruh memetik kelapanya. Juga nggak disuruh turun. Kalau seperti itu, yang kebangetan siapa?)" si anak menjawab.

Cerita-cerita berbasis pengalaman orang-orang berinteraksi dengan itu hingga kini masih beredar dan hidup di masyarakat sebagai folklor wong samin. Cerita-cerita itu menunjukkan adanya konsistensi antara ucapan dan tindakan warga Samin.


Ketika Orang Madura Mengukur Tinggi Pohon


Cerita ini adalah guyonan yang penulis dapat dari seorang teman.

Pada suatu ketika Presiden Ke-3 RI yaitu Pak Habibie melakukan kunjungan kerja ke pulau Madura. Karena banyak pohon kelapa, Pak Habibie ingin melakukan tes pengetahuan tentang ilmu fisika terhadap warga Madura. Tapi tidak ada hadiah sepeda seperti sekarang. :)

Pak Habibie bertanya kepada warga Madura yang hadir pada acara kunjungan tersebut, "Bapak Ibu sekalian, saya ingin bertanya, kira-kira bagaimana cara Bapak Ibu mengukur dan mengetahui tinggi pohon kelapa di samping saya ini?.

Salah satu yang hadir menjawab, "Sungguh mudah kalau itu, Bapak Presiden. Saya tinggal bawa roll meteran, kemudian saya panjat, saya julurkan roll meteran ke bawah sampai mentok dan teman saya yang berda di bawah tinggal mencatat angkanya".

Presiden Habibie tanya kembali, "Oh, begitu ya? Bukannya lebih mudah kalau pohon kelapanya ditebang, kemudian dibaringkan dan diukur. Nanti ketahuan ukurannya."

Warga Madura tadi menjawab, "Oh, kalau begitu salah Bapak Presiden, khan Bapak Presiden tanya TINGGI pohon kelapa, bukan tanya PANJANG pohon kelapa".

Pak Habibie tersenyum geli sendiri.

artikel, investasi, saham, edukasi, cerita, inspirasi

Ketika Seseorang Merasa Cukup


Dalam suatu kelas/workshop saham, penulis bertemu seorang trader pemula yang diajarkan bahwa untuk trading harian target profitnya cukup 1% net per hari.

Pernah suatu kali disampaikan sinyal sebuah emiten yang kuat sekali untuk naik (up). Harga target yang diberikan adalah berpotensi profit hingga 8% dalam hari itu. Dan benar-benar jadi kenyataan bahwa target profit 8% benar-benar tercapai.

Di luar dugaan, sang trader pemula sudah menjual pada saat profit 1.6% dan sudah mendapat keuntungan hari itu sebesar 1% net.

Ketika ditanya kenapa dijual cepat, dengan santai sang trader pemula menjawab, "Khan targetnya 1% per hari, ya sudah, mau ngapain lagi?".

Jawaban singkat yang "menampar" para trader pengalaman yang ada di situ.

Berpikir Kreatif atau Berpikir Sederhana?


Orang samin, orang madura dan sang trader pemula di atas adalah contoh orang-orang yang mempunyai pola pikir sederhana. Tidak perlu berpikir rumit untuk sesuatu yang perlu dilakukan.

Bagi Pak Habibie, mengukur kelapa dengan menebangnya lebih dahulu adalah berpikir kreatif dan itu sah-sah saja. Toh, akhirnya hasilnya juga sama.

Dalam investasi saham, apakah kita akan berpikir kreatif atau berpikir sederhana itu adalah sebuah pilihan. Karena, xara menggunakan indikator sama, cara membaca laporan keuangan sama, cara Buy dan Sell juga sama.

Bagi seorang trader harian mungkin akan lebih senang berpikir sederhana, dengan urutan buy, cuan, sell dengan target net profit 1% per hari. Sudah sangat lebih cukup dibanding bunga deposito.

Berbeda bagi seorang value investor. Seorang value investor senang untuk berpikir kreatif. Melihat analisa laporan keuangan adalah seni serba kemungkinan. Otak dituntut untuk bisa menyimpulkan yang akhirnya menjadi sebuah keputusan investasi.

Dua kesimpulan paragraf terakhir adalah kesimpulan penulis dalam mengamati perilaku para investor dan trader saham. Bisa jadi dua kesimpulan di atas tidak sepenuhnya benar karena semua serba relatif tergantung keadaan, tapi tidak ada salahnya dicoba.



Oleh: Don Cuan
Seorang trader saham dan forex, investor saham, pemahat kata, pecandu rindu, penikmat kopi, dan pemburu senja. Dapat dihubungi melalui akun telegram: @sahamania.


Posting Komentar

0 Komentar